Senin, 15 Agustus 2011

Revolusi Digital Korea Utara

Park Geun-hye adalah politisi wanita berpengaruh Korea Selatan. Dia putri mantan presidan Korsel Park Chung-hee. Park sempat bertandang ke Washington enam tahun silam. Dia disambut Menteri Pertahanan AS saat itu, Donald Rumsfeld. Di depan Park, Rumsfeld melakukan presentasi tentang negeri seteru Park: Korea Utara. Dia membentang foto pencitraan satelit semenanjung Korea pada malam hari. Hasil foto itu seperti langit dan bumi. Korea bagian selatan mandi cahaya. Sementara tetangganya di utara dibekap gelap. Bagi mereka soal terang atau gelap itu penting. Sebab, kata hasil riset dua tim peneliti AS, itu terkait dengan pendapatan warga di suatu wilayah. Karenanya, mereka pun mengamati perubahan cahaya lampu malam di negara yang tak punya statistik ekonomi pasti, seperti Irak, Aljazair, dan Haiti. Situs web Chosun Ilbo melaporkan bahwa National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), mencatat cahaya lampu malam yang dihasilkan Korut hanya sekitar dua persen dari Korsel. Korut memang tengah mengalami krisis ekonomi, kesulitan pangan, dan pembatasan listrik. Listrik hanya menyala beberapa jam sehari. Menurut The Telegraph, kereta api listrik di Korut sering ngadat, dan berhenti di tengah jalan. Kadang kereta kembali beroperasi setelah sejam, sehari, atau bahkan dua hari kemudian. Tak heran bila di malam hari Korut terlihat gelap gulita dari angkasa. Tak hanya itu, Korut juga dikenal negara paling ‘offline’ di seluruh dunia. Negara ini seperti terputus dari komunikasi dengan dunia luar. Koneksi internet dan ponsel amat jarang dijumpai. Laporan LSM yang memperjuangkan kebebasan pers, Reporters Sans Frontierès, bahkan sempat menjuluki negara ini sebagai ‘Lubang Hitam Internet terburuk di dunia’. Dihukum mati Dua Korea itu memang tak serupa. Korsel adalah negara berkoneksi internet terbaik di dunia. Lebih dari 80 persen rumah terhubung sambungan internet berkecepatan tinggi. Perusahan hosting internet asal AS, Akamai, mengatakan rakyat Korsel adalah penikmat koneksi internet tercepat di dunia. Negara ini juga punya pelanggan internet pita lebar nirkabel terbesar.

Setidaknya, kini Korut mulai membuka diri terhadap teknologi. Tahun lalu mereka membuka akun Uriminzok (artinya: Rakyat Kami - red) di Twitter, Facebook YouTube kendati isinya tak lain daripada propaganda mereka. Maskapai penerbangan milik pemerintah, Air Koryo tak ketinggalan membuka akun mereka di Facebook, dan mengundang banyak interaksi. Tapi sebagian pengamat menilai, revolusi digital itu hanyalah strategi memuluskan suksesi yang akan dilakukan Korut kelak. Kim Jong-Il kini sakit-sakitan. Kini kekuasaan siap meluncur ke ke tangan putra bungsunya Kim Jong-Un, yang mengecap pendidikan barat di Swiss. Menurut pengamat Korut Brian Myers, revolusi digital bertujuan agar pemimpin baru ini nantinya dipuja dan dinantikan oleh rakyat mereka. "Kim Il Sung naik tahta sebagai seorang legenda militer. Kim Jong Il juga melakukan hal sama. Apa yang akan saya lakukan di posisi mereka, adalah mengasosiasikan (Jong-Un) dengan inovasi teknologi," ujar profesor di bidang hubungan internasional itu. Tak banyak informasi tentang Jong-Un, putra mahkota berusia 26 tahun itu. Banyak yang meragukan dia mampu memimpin Korut bangkit dari keterpurukan. "Mereka (pemerintah) bilang kepada kami, dia (Jon-Un) akan memberikan kesuksesan dan kebaikan di bidang politik, ekonomi, dan budaya," kata Kim Hua, warga Korut di kota Hamhung kepada Telegraph. Teknologi mungkin dapat memperbaiki kondisi masyarakat Korut. Tapi tak ada kepastian bila menyangkut Jong-Un. “Anda harus percaya kepadanya, walaupun sebenarnya Anda tidak,” ujar Kim Hua

0 komentar:

Posting Komentar